Beritabolaindonesia.net – Manchester United resmi mengakhiri masa kerja Ruben Amorim sebagai head coach hanya 14 bulan setelah ia ditunjuk sebagai pengganti pelatih sebelumnya. Keputusan itu diumumkan klub pada Senin, 5 Januari 2026, usai hasil imbang 1‑1 di Premier League melawan Leeds United yang akhirnya menjadi momen terakhir bagi sang pelatih di Old Trafford.
Man United mengeluarkan pernyataan resmi yang singkat namun tegas: keputusan pemecatan Amorim diambil karena manajemen merasa klub membutuhkan perubahan untuk memaksimalkan peluang menyelesaikan musim ini dengan hasil terbaik. Saat ini United berada di posisi keenam klasemen Liga Primer, cukup jauh di bawah target yang diharapkan para pendukung dan klub.
“Ruben Amorim telah berpisah dari perannya sebagai Head Coach Manchester United. Klub ingin mengucapkan terima kasih atas kontribusinya dan mendoakan yang terbaik bagi masa depannya,” bunyi pernyataan resmi klub.
Darren Fletcher, mantan gelandang MU dan pelatih tim U‑18, ditunjuk sebagai interim head coach untuk laga berikutnya. Amorim, berusia 40 tahun, tiba di Manchester United pada November 2024 dengan reputasi tinggi usai membawa Sporting CP sukses di Portugal. Ia dikontrak sebagai head coach sebuah posisi yang merefleksikan struktur manajemen sepak bola modern yang diterapkan klub.
Selama 14 bulan di kursi pelatih, Amorim mencatat 25 kemenangan dari 63 laga di semua kompetisi, atau sekitar 39% kemenangan. Catatan ini termasuk kemenangan di beberapa pertandingan penting, tetapi secara keseluruhan dianggap kurang memuaskan oleh manajemen United yang berharap posisi lebih tinggi di klasemen dan performa konsisten di liga domestik.
Salah satu pencapaian yang sempat memberikan harapan adalah membawa Manchester United ke Final Liga Europa 2025 di Bilbao. Namun kemenangan di final kembali gagal diraih, dan performa inconsistent di Liga Primer menjadi sorotan utama menjelang akhir era Amorim.
Seiring tren hasil yang tidak stabil, hubungan antara Amorim dan jajaran manajemen mulai memanas. Dalam konferensi pers menjelang pemecatannya, Amorim sempat membuat pernyataan kontroversial soal peran dan kendali di klub. Ia menegaskan bahwa ia datang ke United untuk menjadi manager, bukan sekadar coach, serta mengkritik departemen pencarian bakat dan manajemen pemain secara terbuka.
Komentar ini memperlihatkan adanya ketegangan internal antara sang pelatih dan pihak klub, khususnya dengan direktur sepak bola dan struktur manajemen yang lebih tinggi. Ketidaksepakatan atas transfer, kontrol taktis, serta visi permainan pun semakin memperkuat pertanyaan seputar kesinambungan kepemimpinannya.
Dalam laporan lanjutan, disebutkan bahwa manajemen klub merasa perubahan kini diperlukan agar tim dapat mengejar target musim ini, termasuk posisinya di Liga Primer dan peluang kompetisi Eropa. Keputusan untuk menunjuk Fletcher secara sementara mencerminkan langkah cepat klub untuk mengurangi gejolak yang ada di ruang ganti dan tengah pelatihan.
Berita pemecatan ini langsung menjadi topik hangat di kalangan suporter dan analis sepak bola. Banyak pendukung United yang kecewa melihat sang pelatih, yang datang dengan banyak harapan, harus pergi dalam waktu relatif singkat. Beberapa fans mengkritik keputusan klub sebagai terburu-buru, sementara sebagian lain merasa perubahan memang diperlukan agar United bisa kembali kompetitif di liga. Diskusi pun bergulir di komunitas online, termasuk pandangan tajam soal filosofi permainan dan arah strategi tim di bawah Amorim.
Beberapa analis berpendapat pemecatan ini menunjukkan betapa tingginya tekanan profesional di klub besar seperti Manchester United, di mana hasil instan kadang dinilai lebih penting daripada proses jangka panjang. Pemecatan tersebut juga membuka pertanyaan seputar bagaimana klub mengelola proyek jangka panjang dan hubungan antara pelatih dengan manajemen atas.
Dengan pemecatan Amorim, Manchester United kini memasuki fase transisi lagi. Darren Fletcher akan memimpin sebagai pelatih interim untuk laga berikut, termasuk pertandingan Premier League yang akan datang. Sementara itu, klub dikabarkan akan mencari pengganti permanen kandidat yang mungkin berasal dari nama besar pelatih senior atau figur yang punya visi jelas untuk membawa United kembali ke jalur kemenangan.
Keputusan ini tentunya menjadi berita besar yang mengguncang dunia sepak bola, terutama bagi penggemar setia Manchester United yang selalu berharap klub kembali mencapai kejayaan era klasiknya. Perjalanan klub selanjutnya akan menjadi sorotan penting sepanjang sisa musim 2025/2026 termasuk apakah perubahan ini dapat menjadi titik balik positif bagi tim atau justru menambah ketidakstabilan di kursi pelatih.
