Timnas Sepak Bola Amputasi Ikut International Challenge Cup 2026 Tokyo

Beritabolaindonesia.netSemangat Merah Putih kembali berkibar di kancah olahraga internasional. Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia telah secara resmi tiba di Tokyo, Jepang, untuk mengikuti International Challenge Cup (ICC) 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 16–18 Januari 2026 di Komazawa Olympic Park General Sports Ground, Athletics Stadium. Kedatangan skuad ini menandai babak penting perjuangan para atlet penyandang disabilitas di level global.

Rombongan tiba di Terminal 2 Bandara Haneda pada Rabu petang waktu setempat, disambut hangat oleh perwakilan KBRI Tokyo, termasuk Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya, Muhammad Al Aula. Ia menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi dan kesiapan tim yang telah berlatih keras untuk membela Indonesia dalam ajang bergengsi ini.

“Selamat datang kepada Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia yang akan membawa nama bangsa di ICC 2026 Tokyo. Kami semua berharap Merah Putih dapat berkompetisi secara optimal dan mengukir prestasi yang membanggakan, sambil tetap menjunjung tinggi nilai fair play.” ujar Al Aula dalam pernyataannya.

Tantangan dan Jadwal Pertandingan

International Challenge Cup 2026 menghadirkan kompetisi sengit antara empat tim kuat dunia, yakni Indonesia, Jepang (tuan rumah), Polandia, dan Spanyol masing‑masing negara memiliki tradisi panjang dalam sepak bola amputasi. Turnamen ini menjadi momen penting untuk memperlihatkan kemampuan teknis, strategi permainan, dan mental juara para atlet Indonesia di hadapan penonton internasional.

Indonesia dijadwalkan membuka pertandingan dengan menghadapi Jepang pada hari pertama. Selanjutnya, skuad Merah Putih akan menantang Polandia dan Spanyol di hari kedua dan ketiga kompetisi. Pertandingan ini tidak hanya soal skor, tetapi juga ajang tukar pengalaman internasional bagi para pemain, yang terbiasa tampil di kompetisi domestik maupun regional.

Kesiapan Tim dan Target Prestasi

Ketua Umum Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Indonesia (PSAI), Yudi Yahya, memastikan bahwa seluruh pemain berada dalam kondisi fisik dan mental prima menjelang laga.

“Alhamdulillah kami telah tiba di Tokyo untuk mengikuti ICC 2026. Kami pastikan seluruh pemain dalam kondisi siap tempur di ajang bergengsi ini.” ujar Yudi.

Ia juga menambahkan bahwa target awal tim adalah minimal meraih posisi runner‑up, meskipun lawan yang akan dihadapi memiliki pengalaman laga internasional yang luas. Sementara itu, Aditya, kapten tim, juga menunjukkan keyakinannya terhadap semangat juang seluruh anggota skuad. Ia menegaskan bahwa para pemain bertekad untuk menampilkan permainan terbaik dan strategi yang matang dari pelatih untuk mengatasi tekanan pertandingan serta memaksimalkan peluang mencetak gol.

Tentang Sepak Bola Amputasi

Sepak bola amputasi adalah cabang olahraga yang dimainkan oleh atlet penyandang amputasi anggota tubuh atas atau bawah, dengan aturan 7 vs 7 di lapangan khusus. Para pemain menggunakan alat bantu krutch (Lofstrand) sebagai bagian dari gaya permainan mereka. Olahraga ini telah menjadi simbol keberanian, ketangguhan, dan semangat kompetitif para atlet disabilitas di dunia, sekaligus sarana rehabilitasi fisik maupun sosial.

Permainan ini memiliki dinamika tinggi, termasuk kecepatan, teknik kontrol bola, dan koordinasi tim yang solid semua aspek yang menguji kesiapan fisik dan mental setiap pemain. Tidak heran jika sepak bola amputasi kini menjadi salah satu cabang yang menarik perhatian di berbagai kejuaraan internasional.

Dukungan dan Harapan

Kehadiran Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia di Tokyo juga mendapatkan dukungan penuh dari komunitas diaspora Indonesia di Jepang, yang siap menyemangati sepanjang kompetisi. Selain itu, keberhasilan tim dalam ajang ini dapat menjadi inspirasi luas bagi generasi muda, termasuk para penyandang disabilitas lainnya untuk terus bermimpi dan berkarya melalui olahraga.

Turnamen International Challenge Cup 2026 bukan sekadar kompetisi ini adalah panggung besar bagi para pahlawan olahraga disabilitas Indonesia untuk menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah hambatan untuk berprestasi dan mengharumkan nama bangsa di pentas dunia.